Bodoh
Mencontek sama seperti narkoba. Bukan hanya berbahaya tapi juga membuat kecanduan dan ketergantungangan.
Pernahkah kalian berfikir menggapa bisa seorang atau mungkin diri kalian sendiri memiliki hasrat untuk mencontek?
Saya sendiri telah berfikir lama untuk menulis blog ini. Saya mengakui saya juga pernah mencontek dan saya jadi berfikir menggapa saya bisa melakukan hal itu padahal sudah dilarang?
Pertama-tama mari kita bahas apa itu mencontek: mencontek adalah ketika kita melihat milik orang lain saat melakukan pekerjaan atau melihat rangkuman ketika ujian.
Menurut saya salah besar jika orang-orang mengatakan mencontek itu hanya saat ujian atau mencontek itu buruknya hanya saat ujian, padahal dalam kehidupan sehari-hari mencontek juga buruk karena itu bisa membuat satu individu tidak dapat bersikap mandiri.
Hal ini juga berlaku bagi tugas-tugas sekolah karena jika tugas sekolah saja nyontek mustahil orang itu tidak nyontek saat ujian. Kebiasaan seperti itu seharusnya juga bisa dipertegas oleh guru-guru.
Kemudian mencontek saat tugas sekolah juga bisa menjadi tolak ukur kepintaran seorang siswa. Jika seorang sudah mencontek pastilah dia tidak memahami persoalan yang diberikan oleh guru.
Lalu menggapa seorang siswa bisa memiliki niat untuk mencontek?
Pertama mungkin saja karena siswa itu tidak memahami pelajaran. Saya tidak ingin mengatakan seorang bodoh karena saya percaya tidak ada orang yang bodoh jikalau mereka ingin belajar.
Kedua karena lingkungan, pertama-tama saya memohon maaf saya tidak bermaksud menyindir siapapun tapi kerap saya dapati beberapa guru yang justru mendukung anak-anak muridnya untuk mencontek.
Saya akan memberikan contoh saat saya pertama kali memasuki SMP. saya menemui seorang guru yang menurut saya kelewatan santai. Memang beberapa kali guru ini mengajar tapi itu bisa dihitung dengan jari karena kebanyakan guru ini membiarkan muridnya bermain ponsel.
Saya dari hati terdalam sangat heran mengapa bisa teman sepergaulan saya menyukai guru ini. Saya memang suka bermain ponsel tapi saya datang kesekolah untuk belajar bukan untuk bermain ponsel.
Pada awalnya saya masih oke saja dengan guru ini namun makin lama dia keterlaluan. Puncaknya saat ujian dia memberikan kunci jawaban pada murid-murid. Disaat itu sejujur saya sangat senang mendapat kunci jawaban tapi saya sadar ini tidak benar.
Saya tidak menyukai guru itu, tugas dia adalah mengajar dan saya membayar uang sekolah untuk diajari bukan hanya mendapatkan nilai buta.
Syukurnya saat semester dua guru ini keluar dari sekolah entah karena di PHK atau memang kemauannya.
Selain itu ada juga beberapa hal di lingkungan yang meningkatkan hasrat mencontek kita. Seperti faktor pertemanan dan faktor keluarga.
Pokoknya kalau lingkaran pertemanan kalian mencontek lebih baik kalian keluar karena hal ini bisa menular juga pada kalian.
Ketiga karena pengawas ujian atau guru tidak terlalu mempedulikan aktivas siswa yang mencontek.
Saya beberapa kali merasakan ada loh beberapa guru yang kurang mengawasi siswa saat melakukan tugasnya. Lalu karena hal itu siswa jadi memiliki kebebasan untuk mencontek.
Kemudian beberapa guru juga ada yang sadar namun bungkam atau hanya menyindir. Menurut saya itu tidak berefek apa-apa dan kurang berkesan.
Keempat karena memakai aplikasi ponsel untuk melakukan tugas atau ujian. Memang benar penggunaan aplikasi pada ponsel menghemat kertas dan waktu penilaian namun itu tidak menjamin siswa tidak mencontek.
Disekolah saya, salah satu aplikasi yang digunakan adalah exambro. Meskipun aplikasi exambro terlihat tidak dapat mencontek,namun saya masih mendapati beberapa orang bisa melakukan hal tersebut. Bahkan ada satu orang siswa yang menyebarkan bagaimana cara mencontek lewat aplikasi itu.
Kelima adalah karena faktor pola pikir siswa. Kebanyakan orang-orang yang mencontek hanya melihat hasil akhirnya bukan melihat prosesnya.
Ini juga didukung oleh pemberian peringkat dalam kelas yang menyebabkan siswa berlomba-lomba untuk mendapatkan peringkat itu. Padahal mendapatkan peringkat didalam kelas belum tentu adalah orang yang pintar dalam kelas itu.
Menurut saya peringkat didalam kelas itu tidak bermanfaat, karena tidak semua siswa memiliki keunggulan prestasi dalam akademik.
Lalu apa sebenarnya dampak yang kita rasakan ketika kita mencontek?
Pertama-tama, tentu saja positifnya kita mendapatkan banyak pujian karena orang-orang mengganggap kita ini pintar padahal aslinya tidak banget.
Lalu yang kedua, orang-orang akan curiga bila kalian mencontek dan nilai kalian meningkat drastis. Sebab manusia itu berproses dari 1 ke 2 bukan dari 1 langsung ke 10.
Lalu yang ketiga, masa depan kita tidak lah terjamin. Mungkin nilai kita akan cantik diatas kertas rapot siswa namun pada kenyataannya kita hanyalah seonggok sampah masyarakat yang tidak bisa membantu apa-apa karena saat di sekolah kita tidak memahami apapun selain hanya mencontek.
Kesimpulannya hasrat untuk mencontek bukan hanya berasal dari diri kita sendiri tapi juga bisa timbul karena lingkungan yang menormalisasikan hal tersebut.
Orang-orang mungkin hanyalah menilai hasilnya tapi tidak akan ada hasil yang jujur dan sempurna bila kita tidak berproses.
Jangan biarkan orang yang hanya menilai hasil mu menjadi acuan berfikir mu.
Komentar
Posting Komentar